Hidup Dalam Anugerah

HIDUP DALAM ANUGERAH ALLAH
Mikha 7:14-20

Sebelum perikop ayat 14-20 ini kita mengetahui terjadinya “kemerosotaan akhlak Israel” sebagaimana disuarakan dalam ayat 1-7. Di antaranya, “orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia” (ayat 2). Betapa porakporandanya sebuah bangsa apabila orang saleh sudah hilang.

Bangsa Israel berada dalam keadaan permasalahan besar. Tetapi syukurlah kesetiaan Allah tetap. Dalam iman seperti itu lahir permohonan belas kasihan Tuhan yang bertolak dari pengenalan akan keberadaanNya dan pengakuan akan apa yang telah dilakukanNya di masa silam. Pemeliharaan Allah itu diimani utuh: jasmani dan rohani, yang Nampak sedikitnya dalam tiga hal.

Pertama, Allah adalah pemelihara kehidupan jasmani. Itu sebabnya permohonan itu berbunyi, “Biarlah mereka makan rumput di Basan dan Gilead seperti zaman dahulu kala” (ayat 14).

Kedua, kemerdekaan. Dikatakan, “Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban”. Peristiwa keluaran orang Israel dari Mesir merupakan peristiwa yang sangat penting yang selalu disegarkan dari generasi ke generasi.

Ketiga, pengampunan dosa. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa dan memaafkan pelanggaran……” (ayat 18).
Jadi, jelas sekali bahwa Allah adalah pemelihara hidup secara utuh: jasmani dan rohani dengan sempurna.

Kita menerima firman Tuhan Mika 7:14-20 ini di juga di tengah keadaan kemerosotan akhlak umat manusia pada zaman ini. Kita dapat melihatnya melalui pemberitaan media massa maupun dalam pengalaman kita sendiri. Umat Israel yang disebut dalam firman Tuhan ini sudah tidak ada lagi sekarang. Tetapi ada yang masih tetap: Allah yang memberi kehidupan atau memelihara umat Israel dahulu kala adalah Allah yang memberi kehidupan dan memelihara hidup kita hari ini. Allah yang memerdekakan umatNya dahulu kala adalah Allah yang sama yang menganugerahkan kemerdekaan kepada kita hari ini. Allah yang mengampuni dosa umatNya dahulu kala adalah Allah yang mengampuni dosa-dosa kita hingga saat ini.
Sebagai orang-orang yang menikmati pemeliharaan Tuhan dan menikmati pengampunanNya, kita mempunyai tugas panggilan.

1. Hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Sebab kita sadar bahwa hidup ini adalah anugerah dan berharga.
2. Gerakan hidup orang percaya seharusnya seirama dengan Allah: peduli pada kebutuhan sesama dan mengampuni. Apa yang kita terima dari Allah, itu jugalah yang kita berikan kepada sesama.
3. Dalam perjalanan hidup kita, kita tidak hanya menantikan mujizat-mujizat Tuhan, tetapi kita merelakan diri menjadi “alat terjadinya mujizat”. Itu yang terjadi ketika Yesus membuat mujizat pada pesta perkawinan di Kana. Ada yang mengisi tempayan, ada yang membagi dan sebagainya. Biarlah hidup kita dipakai oleh Tuhan sebagai alat mujizat di tanganNya.

Semua ini kita wujudkan dengan sukacita, suasana merdeka dan dengan kerelaan penuh karena kesempatan dan kemampuan kita untuk mewujudkannya adalah karuniaNya.

Selamat pagi & Selamat menikmati pekerjaan kita masing-masing.
Tuhan Yesus memberkati.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Masukkan Komentar di bawah